“Aku tau kamu tidak bisa meninggalkan aku, begitu juga dengan aku yang tidak mungkin mampu menghadapi hari-hari sulit ku tanpa kamu…”
“lalu
kenapa kamu ngotot menyuruh aku pergi dari kehidupan kamu…??”
Dengan
nada suara yang tak kalah tingginya Fahri memotong pembicaraan Farida.
Perdebatan
panjang melalui kabel telepon itu semakin memanas yang lantas membuat seluruh
tubuh Fahri serasa terbakar, tubuh nya menggetar nafasnya tak beraturan. Ini
memang bukan yang pertama Faridah
membuat Fahri mati gaya oleh pernyataan-pernyataan yang mebuat jantung Fahri
seolah mau copot.
Kedua anak manusia ini memang sedang
berada di posisi cinta yang sulit, cinta yang yang sebelumnya tak mereka
inginkan, karena cinta mereka adalah sebuah kesalahan.
Iya,
Faridah gadis manis 18 Tahun yang sangat fahri cintai melebihi
cintanya pada dirinya sendiri itu adalah istri dari salah seorang kerabat dari
guru Faridah di pesantren dulu.
*** *** ***
Ruangan seluas lima kali empat meter itu terasa sangat sempit, menghimpit, menjepit. Baginya ini lah neraka, neraka yang tak kunjung berhenti menyiksa batin nya. Di sudut remang Faridah terus menyesali takdirnya seraya menjambak-jambak rambutnya. “aku berdosa karena siapa,..? aku durhaka karena siapa,..?? Tuhanku, jangan tutup matamu padaku,.. lihat aku,… yang menangis kesakitan di lembah sandiwara ini….”
Masih
melekat betul dalam ingatan Faridah di mana puncak kesakitan itu terjadi Dua tahun yang lalu.

